Parampa versi 2...
KLIK UNTUK
DOWNLOAD
selamat bermain ^-^
Senin, 18 November 2013
Quiz parampa
bingung nih dikampus mau ngapain, kebetulan lagi wifi an sambil mainin Quiz Parampa asik juga mainnya, ini game maininnya seperti Quiz yang berisi teka-teki jadi agak susah sih tapi happy, nih klo kamu mau main downloadnya KLIK DISININYA
Sabtu, 16 November 2013
ASUHAN KEPERAWATAN KLIEN DENGAN KELAINAN OTOT MATA STRABISMUS
A. Pengertian
Strabismus (juling) adalah : kerja otot-otot bola mata yang tidak terkoordinasi sehingga sumbu visual kedua mata tidak bertemupada titik objek Beberapa ahli menyatakan bahwa juling adalah apabila kelopak mata mengalami perubahan bentuk, sehingga untuk mengurangi efek kelainan refraksi supaya bisa melihat lebih jelas terjdi efek pinhole.Batasan yang benar mengenai juling adalah jika salah satu matanya tidak mengarah ke objek.
B. Etiologi
1. Kelainan refraksi
a. Hipermetropi
Penyebab utama mata juling pada anak kecil adalah hipermetripia yang biasanya berawal ketika anak mulai suka melihat gambar atau benda kecil.
b. Miopia
Strabismus yang disebabkan oleh myopia lebih jarang terjadi
2. Paralisis salah satu mata
a Kelumpuhan musculus rektus medialis : menyebabkan strabisimus divergen gangguan gerak kearah nasal. Keadaan ini bertambah bila mata digerakkan kearah nasal.
b. Kelumpuhan musculus rektus superior
Terdapat keterbatasan gerak keatas (Hipertropia, diplopia campuran, diplopia vertical dan crossed diplopia ) kelainan ini bertambah pada gerakan mata keatas.
c. Kelumpuhan musculus rektus inferior
Terdapat keterbatasan gerak mata kebawah, hipertropia, diplopia campuran, yang bertambah hebat bila mata digerakkan kebawah.
d. Kelumpuhan musculus obligus superior.
Terdapat keterbatasan gerak kearah bawah terutama kearah nasal inferior
e. Kelumpuhan musculus obligus inferior
Terdapat keterbatasan gerak kearah atas terutama kearah nasal, strabisnus vertical, diplopia campuran .kelainan ini bertambah bila mata digerakkan kearah temporal atas.
2. Visus yang buruk pada salah satu mata.
Visus yang buruk pada salah satu mata biasanya akan normal pada mata lainnya sehingga kedua mata gagal bekerjasama dan akibatnya timbul deviasi gerakan bola mata.
Faktor predisposisi
Trauma didaerah kepala
Diabetes miletus juvenile fulminan
Meningitis
Tumor otak
Inveksi virus
C. TANDA DAN GEJALA
1. tanda dan gejala utama strabisimus yaitu mata mempunyai kecendrungan untuk berdeviasi kesalah satu arah dimana arah tersebut dapat dikelompokkan berdasarkan jenis strabisimusnya. Contoh :
Horizontal
Esideviasi : bila salah satu mata berfiksasi pada objek sedangkan mata yang lain berdeviasi ke nasal
Eksodeviasi : Deviasi mata ke temporal
Vertical
Hiperdeviasi : bila salah satu mata berdeviasi ke superior
Hipodeviasi : bila salah satu mata berdeviasi ke inferior
Torsi
Insiklo deviasi : salah satu mata memutari sumbu sagital ke nasal
Excydo deviasi : salah satu mata memutari sumbu sagital ke temporal
2. Noncomitant strabismus / strabismus paralitik
Tanda tanda,
Gerak mata terbatas pada daerah dimana otot yang lumpuh bekerja
Deviasi, kalau mata digerkkan kearah lapangan dimana otot lumpuh bekerja, mata yang sehat akan menjurus kearah ini dengan baik, sedangkan mata yang sakit tertinggal
Diplopia
Okular torticallis
Proyeksi yang salah
Vertigo, mual-mual
D. Klasifikasi
1. Berdasarkan Status Fusi
a. Heteroforia
Adalah: Keadana dimana mata mempunyai kecendrungan untuk berdeviasi ke salah satu arah, yang dapat diatasi dengan penglihatan binokuler tunggal Deviasix Laten , hanya dapat dilihat bila mata sebelah nya ditutup.
b. Heterotropia
Adalah: Kelainan deviasi dimana tidak mungkin untuk melakukan penglihatan Binokuler Tunggal. Fiksasi terjadi dengan satu mata dan tidak berubah dengan dua mata pada waktu yang sama.
Hetertropia dapat disebabkan oleh kelainan:
1. Hederiter
2. Anatomik, kelainan otot mata luar, kelainan rongga orbita
3. Kelainan refraksi
4. Kelainan pernafasan, sensori motorik, keadaan yang menggagalkan fusi
5. Kombinasi dan faktor-faktor di atas
2. Berdasarkan arah deviasi
a. Horizontal
Esodeviasi
Exodeviasi
b. Vertikal
Hiperdeviasi
Hipodeviasi
c. Torsi
Insiklo Deviasi
Exyclo deviasi
3. Berdasarkan variasi sudut deviasi pada gerakan bola mata
a. Strabismus non paralitik
Besarnya sudut deviasi sama besar pada setiap gerakan bola mata. Sudut deviasinya adalah sama tidak tergantung pada arah pandangan (direction of gaze). Deviasi ini terjadi akibat penglihatanya yang buruk.Semua penglihatan yang buruk bisa berakibat terjadinya deviasi.Ex retinoblastoma.
Dibedakan atas 2, strabisimus non paralitik non akomodatif. Deviasinya sama kesemua arah dan tidak dipengaruhi oleh akomodasi karena penyebabnya tidak ada hubunganya dengan kelainan refraksi/kelumpuhan otot.
Disebabkan oleh
Insersi yang salah oleh otot-otot yang bekerja horizontal
Gangguan keseimbangan gerak bola mata
Kekurangan daya fusi
b. Strabismus paralitik
Sudut deviasi tidak sama pada semua arah disebabkan hilangnya satu atau lebih otot mata.
Juling juga bisa disebabkan oleh palsi saraf keenam yang disebabkan oleh tumor yang berakibat meningkatnya tekanan intrakranial.Pada kasus ini juling adalah aparalitik dan sudut deviasinya berubah-ubah tergantung pada arah pandangan.Pada penderit miestenia gravis gejala pertamanya dalah juling diplopia.
4. Berdasarkan usia terjadinya
Kongenital terjadi pada usia< Acquired terjadi pada usia .6 bulan > 6 bulan
E. Patofisiologi
Kelainan refraksi Visus yang buruk Paralisis salah
Pada salah satu mata satu otot mata
Hipermetropia Miopi
Gangguan/keterbatasan
Gerak otot mata kearah
tertentu
Penyesuaian mata
Tidak konstan
Mata gagal bekerja sama
Jalur visual abnormal
Deviasi gerakan bola mata
Akomodasi berlebihan
Strabismus paralitik
Konvergensi berlebih
(overkonvergence)
Strabismus non paralitik
Kelainan kosmetik* Gerak mata terbatas
Menurunya visus * Diplopia
Murung * Proyeksi mata yang salah
Vertigo, mual
Mk. Gangguan harga diri Mk. Gangguan sensori perseptual
Penglihatan
F. Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan Ini dilakukan untuk mengukur derajat strabismus. Diantara nya:
1. Tes Hisch Berg
Caranya :
Penderita disuruh untuk melihat cahaya pada jarak 12 inci (30cm).perhatikan reflek cahaya terhadap pupil. Kalau letak nya di pinggir pupil, maka deviasinya 15 derajat, tapi kalau letaknya diantara pinggir pupil dan limbus maka deviasinya 30 derajat dan jika letak nya di limbus, maka derajat deviasinya 45 derajat.(catt : 1 derajat= 2 prisma diopter)
2. Tes Krimsky
Carabya:
Penderita melihat kesumber cahaya yang jarak nya ditentukan.Perhatikan reflek cahaya pada mata yang berdeviasi. Kekuata prisma yang terbesar diletakkan di depan mata yang brdeviasi, sampai reflek cahaya yang terletak disentral kornea
3. Tes Maddox Cross
Maddox Cross terdiri dari satu palang dengan tangan dari silang nya 1 m. pada jarak 1 m dari Maddox cross, kedua mata penderita, musle light yang terletak ditengah-tengah Maddox cross dan ujung Maddox cross membentuk segitiga sama kaki dengan sudut dasarnya 45o
Suruh penderita melihat muscle light, kalau tidak ada strabismus, reflek cahaya terletak di tengah-tengah pupil, namu bila strabismus, letaknya eksentrik
4. Tes Pemeriksaan Rotasi Monokuler
Caranya:
Diperiksa dengan salah satu mata ditutup, sedangkn mata yang lain mengikuti cahaya atau objek yang diarahkan kesemua arah. Kelemahan deduksi dapat diketahui yang disebabkan oleh kelemahan otot atau kelainan anatomis dari otot.
5. Uncover Test
Caranya:
Pasien diminta melihat objek fiksasi.Mata kanan ditutup dan mata kiri tidak.
Lalu dibuka, segera perhatikan, bila bola mata bergerak, heterophoria diam,orhoporia, exophoria bergerak nasal.
II DO :
• Menurunya ketajaman penglihatan (visus)
• Adanya diplopia
• Adanya deviasi pada mata
DS :
• Anak sering mual dan pusing
• Klien mengeluh penglihatannya ganda
DO :
• Adanya deviasi pada mata
• Klien tampak sering murung
DS :
• Ibu klien mengatakan anaknya kurang bergaul dengan teman-temanya.
• Klein merasa rendah diri
Gangguan
Penerimaan
Sensori/status
Organ indraKelainan fisik (mata)
Gangguan sensori
Perseptual
Penglihatan
( diplopia )
Gangguan harga diri
B. Rencana Kepertawatan
no Diagnose keperawatan perencanaan
tujuan intervensi rasional
1
2 Gg sensori perceptual penglihatan(diplopia)b/d gg penerimaan sensori/status organ indra.
Gg harga diri b/d fisik (mata) Gg sensori perceptual penglihatan dapat teratasi dengan criteria hasil:
- Meningkat nya ketajaman penglihatan
- Diplopia tidak ada lagi
- mual dan vertigo tidak ada lagi.
Gg hargadiri teratasi dengan criteria hasil:
- klien tidak murung lagi
- klien tidak merasa rendah diri lagi dengan teman- temannya - tentukan ketajaman penglihatan, catat apakah satu/dua mata terlihat
- beritahu penyebab terjadinya diplopia.
- tentukan jenis strabismus tersebut
- kolaborasi dengan dokter dalam pemberian terapi obat.
- Anjurkan orangtua untuk selalu memberikan dukungan terhadap tindakan pasien yang positif
- anjurkan orang tua untuk memotivasi anak nya untuk berbgabung dengan teman sebaya.
- lakukan pendekatan pada klien
- kolaborasi dengan psikolog - Menentukan pilihan intervensi yang bervariasi karena kehilangan penglihatan terjadi lambat dan progresif
- adanya diplopia menyebabkan mual dan vertigo.
- untuk menentukan jenis pengobatan yang tepat
- untuk memperbaiki visus dan kelainan refraksi
- meningkatkan rasa percaya diri pat,bahwa ia mampu seperti temannya yang lain
- mengurangi rasa kurang percaya diri klien terhadap diri nya sehingga klien mau bergaul dengan teman-temannya
- mempermudah dalam memberikan dukungan
- membantu klien mendapatkan kesembuhan optimal
LP TONSILITIS AKUT
A. Pengertian
Tonsilitis adalah terdapatnya peradangan umum dan pembengkakan dari jaringan tonsil dengan pengumpulan lekosit, el-sel epitel mati dan bakteri patogen dalam kripta (Adam Boeis, 1994: 330).
Tonsilektomi adalah suatu tindakan invasif yang dilakukan untuk mengambil tonsil dengan atau tanpa adenoid (Adam Boeis, 1994: 337).
B. Etiologi
1. Streptokokus hemolitikus grup A.
2. Pneumokokus.
3. Stafilokokus.
4. Haemofilus influezae.
C. Pathofisiologi
1. Terjadinya peradangan pada daerah tonsila akibat virus.
2. Mengakibatkan terjadinya pembentukan eksudat.
3. Terjadi selulitis tonsila dan daerah sekitarnya.
4. Pembentukan abses peritonsilar.
5. Nekrosis jaringan.
D. Gejala-gejala
1. Sakit tenggorokan dan disfagia.
2. Penderita tidak mau makan atau minum.
3. Malaise.
4. Demam.
5. Nafas bau.
6. Otitis media merupakan salah satu faktor pencetusnya.
E. Penatalaksanaan
1. Tirah baring.
2. Pemberian cairan adekuat dan diet ringan.
3. Pemberian obat-obat (analgesik dan antibiotik).
4. Apabila tidak ada kemajuan maka alternatif tindakan yang dapat di lakukan adalah pembedahan.
F. Indikasi tindakan pembedahan
1. Indikasi absolut
a. Timbulnya kor pulmonale akibat adanya obstruksi jalan nafas yang kronis.
b. Hipertrofi tonsil atau adenoid dengan sindroma apnea pada waktu tidur.
c. Hipertrofi yang berlebihan yang mengakibatkan disfagia dan penurunan berat badan sebagai penyertanya.
d. Biopsi eksisi yang di curigai sebagai keganasan (limfoma).
e. Abses peritonsilaris berulang atau abses yang meluas pada jaringan sekitarnya.
2. Indikasi relatif
Seluruh indikasi lain untuk tindakan tonsilektomi di anggap sebagai indikasi relatif.
3. Indikasi lain yang paling dapat di terima adalah
a. Serangan tonsilitis yang berulang.
b. Hiperplasia tonsil dengan gangguan fungsional (disfagia).
c. Hiperplasia dan obstruksi yang menetap selama 6 bulan.
d. Tidak memberikan respons terhadap penatalaksanaan dan terapi.
G. Kontraindikasi
1. Demam yang tidak di ketahui penyebabnya.
2. Asma.
3. Infeksi sistemik atau kronis.
4. Sinusitis.
H. Persiapan operasi yang mungkin di lakukan
1. Pemeriksaan laboratorium (Hb, leko, waktu perdarahan).
2. Berikan penjelasan kepada klien tindakan dan perawatan setelah operasi.
3. Puasa 6-8 jam sebelum operasi.
4. Berikan antibiotik sebagai propilaksis.
5. Berikan premedikasi ½ jam sebelum operasi.
I. Pengkajian
1. Riwayat kesehatan yang bergubungan dengan faktor pendukung terjadinya tonsilitis serta bio- psiko- sosio- spiritual.
2. Peredaradan darah
Palpitasi, sakit kepala pada saat melakukan perubahan posisi, penurunan tekanan darah, bradikardi, tubuh teraba dingin, ekstrimitas tampak pucat.
3. Eliminasi
Perubahan pola eliminasi (inkontinensia uri/ alvi), distensi abdomen, menghilangnya bising usus.
4. Aktivitas/ istirahat
Terdapat penurunan aktivitas karena kelemahan tubuh, kehilangan sensasi atau parese/ plegia, mudah lelah, sulit dalam beristirahat karena kejang otot atau spasme dan nyeri. Menurunnya tingkat kesadaran, menurunnya kekuatan otot, kelemahan tubuh secara umum.
5. Nutrisi dan cairan
Anoreksia, mual muntah akibat peningkatan TIK (tekanan intra kranial), gangguan menelan, dan kehilangan sensasi pada lidah.
6. Persarafan
Pusing/ syncope, nyeri kepala, menurunnya luas lapang pandang/ pandangan kabur, menurunnya sensasi raba terutama pada daerah muka dan ekstrimitas. Status mental koma, kelmahan pada ekstrimitas, paralise otot wajah, afasia, pupil dilatasi, penurunan pendengaran.
7. Kenyamanan
Ekspresi wajah yang tegang, nyeri kepala, gelisah.
8. Pernafasan
Nafas yang memendek, ketidakmampuan dalam bernafas, apnea, timbulnya periode apnea dalam pola nafas.
9. Keamanan
Fluktuasi dari suhu dalam ruangan.
10. Psikolgis
Denial, tidak percaya, kesedihan yang mendalam, takut, cemas.
J. Masalah dan rencana tindakan keperawatan
1. Ketidakefektifan pola nafas berhubungan dengan kerusakan jaringan atau trauma pada pusat pernafasan
Tujuan: Pasien menunjukkan kemampuan dalam melakukan pernafasan secara adekuat dengan memperlihatkan hasil blood gas yang stabil dan baik serta hilangnya tanda-tanda distress pernafasan.
Rencana tindakan:
a. Bebaskan jalan nafas secara paten (pertahankan posisi kepala dalam keadaan sejajar dengan tulang belakang/ sesuai indikasi).
b. Lakukan suction jika di perlukan.
c. Kaji fungsi sistem pernafasan.
d. Kaji kemampuan pasien dalam melakukan batuk/ usaha mengeluarkan sekret.
e. Observasi tanda-tanda vital sebelum dan sesudah melakukan tindakan.
f. Observasi tanda-tanda adanya ditress pernafasan (kulit menjadi pucat/ cyanosis).
g. Kolaborasi dengan terapist dalam pemberian fisoterapi.
2. Kerusakan mobilitas fisik berhubungan dengan kelemahan neuromuskuler pada ekstrimitas.
Tujuan: Pasien menunjukan adanya peningkatan kemampuan dalam melakukan aktivitas fisik.
Rencana tindakan:
a. Kaji kemampuan pasien dalam melakukan aktivitas.
b. Ajarkan pada pasien tentang rentang gerak yang masih dapat di lakukan.
c. Lakukan latihan secara aktif dan pasif pada akstrimitas untuk mencegah kekakuan otot dan atrofi.
d. Anjurkan pasien untuk mengambil posisi yang lurus.
e. Bantu pasien secara bertahap dalam melakukan ROM sesuai kemampuan.
f. Kolaborasi dalam pemberian antispamodic atau relaxant jika di perlukan.
g. Observasi kemampuan pasien dalam melakukan aktivitas
3. Penurunan perfusi jaringan otak berhubungan dengan edema cerebri, perdarahan pada otak.
Tujuan: Pasien menunjukan adanya peningkatan kesadaran, kognitif dan fungsi sensori.
Rencana tindakan:
a. Kaji status neurologis dan catat perubahannya.
b. Berikan pasien posisi terlentang.
c. Kolaborasi dalam pemberian O2.
d. Observasi tingkat kesadaran, tanda vital.
4. Gangguan rasa nyaman nyeri berhubungan dengan adanya trauma secara fisik
Tujuan: Pasien mengungkapkan nyeri sudah berkurang dan menunjukkan suatu keadaan yang relaks dan tenang.
Rencana tindakan:
a. Kaji tingkat atau derajat nyeri yang di rasakan oleh pasien dengan menggunakan skala.
b. Bantu pasien dalam mencarai faktor presipitasi dari nyeri yang di rasakan.
c. Ciptakan lingkungan yang tenang.
d. Ajarkan dan demontrasikan ke pasien tentang beberapa cara dalam melakukan tehnik relaksasi.
e. Kolaborasi dalam pemberian sesuai indikasi.
5. Kerusakan komunikasi verbal berhubungan dengan efek dari kerusakan pada area bicara pada himisfer otak.
Tujuan: Pasien mampu melakukan komunikasi untuk memenuhi kebutuhan dasarnya dan menunjukan peningkatan kemampuan dalam melakukan komunikasi.
Rencana tindakan:
a. Lakukan komunkasi dengan pasien (sering tetapi pendek serta mudah di pahami).
b. Ciptakan suatu suasana penerimaan terhadap perubahan yang dialami pasien.
c. Ajarkan pada pasien untuk memperbaiki tehnik berkomunikasi.
d. Pergunakan tehnik komunikasi non verbal.
e. Kolaborasi dalam pelaksanaan terapi wicara.
f. Observasi kemampuan pasien dalam melakukan komunikasi baik verbal maupun non verbal.
6. Perubahan konsep diri berhubungan dengan perubahan persepsi.
Tujuan: Pasien menunjukan peningkatan kemampuan dalam menerima keadaan nya.
Rencana tindakan:
a. Kaji pasien terhadap derajat perubahan konsep diri.
b. Dampingi dan dengarkan keluhan pasien.
c. Beri dukungan terhadap tindakan yang bersifat positif.
d. Kaji kemampuan pasien dalam beristirahat (tidur).
e. Observasi kemampuan pasien dalam menerima keadaanya.
7. Perubahan pola eliminasi defekasi dan uri berhubungan dengan an inervasi pada bladder dan rectum.
Tujuan: Pasien menunjukkan kemampuan dalam melakukan eliminasi (defekasi/ uri) secara normal sesuai dengan kebiasaan pasien.
Rencana tindakan:
a. Kaji pola eliminasi pasien sebelum dan saat di lakukan pengkajian.
b. Auskultasi bising usus dan distensi abdomen.
c. Pertahankan porsi minum 2-3 liter perhari (sesuai indikasi).
d. Kaji/ palpasi distensi dari bladder.
e. Lakukan bladder training sesuai indikasi.
f. Bantu/ lakukan pengeluaran feces secara manual.
g. Kolaborasi dalam(pemberian gliserin, pemasangan dower katheter dan pemberian obat sesuai indikasi).
8. Resiko terjadinya kerusakan integritas kulit berhubungan dengan sirkulasi perifer yang tidak adekuat, adanya edema, imobilisasi.
Tujuan: Tidak terjadi kerusakan integritas kulit (dikubitus).
Rencana tindakan:
a. Kaji keadaan kulit dan lokasi yang biasanya terjadi luka atau lecet.
b. Anjurkan pada keluarga agar menjaga keadan kulit tetap kering dan bersih.
c. Ganti posisi tiap 2 jam sekali.
d. Rapikan alas tidur agar tidak terlipat.
9. Resiko terjadinya ketidakpatuhan terhadap penatalaksanaan yang berhubungan dengan kurangnya informasi.
Tujuan: Pasien menunjukan kemauan untuk melakukan kegiatan penatalak- sanaan.
a. Identifikasi faktor yang dapat menimbulkan ketidak patuhan terhadap penatalaksanaan.
b. Diskusikan dengan pasien cara-cara untuk mengatasi faktor penghambat tersebut.
c. Jelaskan pada pasien akibat dari ketidak patuhan terhadap penatalaksanaan.
d. Libatkan keluarga dalam penyuluhan.
e. Anjurkan pada pasien untuk melakukan kontrol secara teratur.
DAFTAR PUSTAKA
Boeis,Adam, 1994, Buku Ajar Penyakit THT, Jakarta: EGC.
Junadi, Purnawan, 1982, Kapita Selekta Kedokteran, Jakarta: Media Aesculapius Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.
Price, Sylvia Anderson, 1985, Pathofisiologi Konsep klinik proses-proses penyakit, Jakarta: EGC.
Selasa, 12 November 2013
mengubah file word ke pdf
untuk mengubah file WORD ke PDF sangatlah mudah kita tidak perlu menginstall sofware-sofware lain, yang perlu kita lakukan hanyalah mengubah type file (pdf)yang akan kita save, caranya :
save file anda dan ubah tipe nya ke pdf sebagai contoh lihat pada gambar :
save file anda dan ubah tipe nya ke pdf sebagai contoh lihat pada gambar :
sekian dulu ya infonya dan tidak lupa saya ucapkan terima kasih atas kunjungannya :)
Langganan:
Postingan (Atom)




