Jumat, 14 November 2014

Cara mengubah file PDF ke Word

LANGKAH-LANGKAH :

1.) masuk ke link INI
2.) upload file anda






















 3.) Tunggu hingga selesai

 










4.) Download file word anda
















5.) Mudahkan :)
6.) **Trimakasih**


Jumat, 13 Juni 2014

Kebun Buah Mangunan

Kebun Buah Mangunan merupakan tempat wisata perbukitan yang indah, disana kita dapat melihat pemandangan pegunungan dan alur sungai oya dari ketinggian, selain itu udara dan suhu disana segar dan sejuk sehingga cocok untuk berwisata :),  mulai dirintis sejak beberapa tahun yang lalu oleh Dinas Pertanian dan Kehutanan Kabupaten Bantul, dengan memanfaatkan lahan kering perbukitan yang kurang produktif di wilayah Desa Mangunan Kecamatan Dlingo
 
Kebun buah mangunan terletak di suatu perbukitan di sisi timur kabupaten Bantul, berbatasan dengan Kabupaten Gunungkidul. Tepatnya, kebun buah itu terletak di desa Mangunan kecamatan Imogiri. Kira-kira 30 km arah tenggara bila dituju dari pusat kota Yogyakarta Kira-kira 30 km arah tenggara bila dituju dari pusat kota Yogyakarta

selain pemandangan alam disana juga terdapat area bermain lainnya seperti : Kolam Renang Anak, Kolam Ikan, Repling Area, Area Kapling Buah-buahan, Rest Area, Peternakan Sapi, Kambing, Circle Track, Trail Track, Out Bond"

Rute :
Dari jogja : Dari Jembatan janti Lurus kearah selatan sampai ketemu perempatan terminal Giwangan belok kekiri(Imogiri), selanjutnya lurus kira" 20 menit  sampai mentok belok kekiri, setelah itu ikuti plang ke arah Kebun buah Mangunan, Ikuti saja plang maka akan sampai ke tujuan.

Berikut Penampakkannya ;







gimana gan bagus bukan tempatnya, itu hanya sebagian dari banyaknya pemandangan indah disana, nah kalau agan" ingin berkunjung disana jangan lupa bawa kamera buat dokumentasi :), owh iya hampir lupa, untuk tiket masuknya 1 org Rp 5000 gk mahalkan, oke mungkin sekian dulu dari saya gan, thanzz....





Kamis, 12 Juni 2014

Goa Maria Sendang Sri Ningsih

Kali ini saya akan berbagi pengalaman religi, yaitu berwisata sekali

gus berdoa di goa maria sri ninggsih yang berada di daerah kota yogyakarta, tepatnya di dusun Jali, desa Gayamharjo, Prambanan, Sleman, yogyakarta.

Sejarah
Gua Maria tersebut berawal dari sebuah sumber mata air bernama Sendang Duren yang dikenal oleh masyarakat sekitar sebagai tempat yang angker atau sakral. Sendang tersebut tepatnya di dusun Jali, desa Gayamharjo, Prambanan, Sleman. Dusun Jali adalah sebuah dusun di lereng bukit Mintaraga, Selatan kota Klaten. Tempat tersebut dalam tradisi Jawa menjadi tempat semedi. Lalu pada tahun 1936 munculah gagasan dari Romo D. Harjosuwondo, SJ yang pada waktu itu masih sebagai Pastor Pendamping Stasi Wedi, bersama Bapak . P. Wongsosentono (Lurah Jali waktu itu tokoh sekaligus seorang tokoh umat di daerah Jali) dan Bapak Bei Sutopanitro (seorang guru agama) untuk menjadikan tempat peziarahan. Maka mulai dibangun tempat peziarahan yang bernama Gua Maria Sendang Sriningsih. (Cat. dari buku Kenangan 70 tahun Gereja St Perawan Maria Bunda KristusWedi, Klaten). Adapun nama tersebut mempunyai arti Maria Rajanya Kasih. Dengan nama tersebut diharapkan para peziarah yang berdoa ditempat tersebut selalu mendapatkan kasih dari Tuhan.

Rute :
  1. Dari Yogyakarta ke Solo, Setelah sampai dipertigaan Candi Boko (Pertigaan Prambanan) Lurus melewati 2 lampu merah, lurus sedikit ketemu SPBU disebelah kanan, Nah didekat SPBU itu ada gang masuk kearah Goa Maria Sriningsih, ikuti aja plang anda akan sampai dilokasi Goa Maria sriningsih.
  2. Dari Solo ke Jogja, setelah klaten dan sebelum terminal bus Bendogantungan, belok kekiri menuju kepasar Jali, kemudian naik ke Goa maria Sriningsih
Ini dia Foto-foto Goa Maria Sringingsih

Selasa, 27 Mei 2014

LAPORAN PENDAHULUAN HALUSINASI



LAPORAN PENDAHULUAN HALUSINASI


A. Pengertian
Halusinasi adalah gangguan pencerapan (persepsi) pasca indera tanpa adanyarangsangan dari luar yang dapat meliputi semua system penginderaan di mana terjadi pada saat kesadaran individu itu penuh / baik.
Halusinasi merupakan bentuk yang paling sering dari gangguan persepsi. Bentuk halusinasi ini bisa berupa suara-suara yang bising atau mendengung, tapi yang paling sering berupa kata-kata yang tersusun dalam bentuk kalimat yang agak sempurna. Biasanya kalimat tadi membicarakan mengenai keadaan pasien sedih atau yang dialamatkan pada pasien itu. Akibatnya pasien bisa bertengkar atau bicara dengan suara halusinasi itu. Bisa pula pasien terlihat seperti bersikap dalam mendengar atau bicara keras-keras seperti bila ia menjawab pertanyaan seseorang atau bibirnya bergerak-gerak. Kadang-kadang pasien menganggap halusinasi datang dari setiap tubuh atau diluar tubuhnya. Halusinasi ini kadang-kadang menyenangkan misalnya bersifat tiduran, ancaman dan lain-lain.
Menurut May Durant Thomas (1991) halusinasi secara umum dapat ditemukan pada pasien gangguan jiwa seperti: Skizoprenia, Depresi, Delirium dan kondisi yang berhubungan dengan penggunaan alkohol dan substansi lingkungan. Berdasarkan hasil pengkajian pada pasien dirumah sakit jiwa ditemukan 85% pasien dengan kasus halusinasi. Sehingga penulis merasa tertarik untuk menulis kasus tersebut dengan pemberian Asuhan keperawatan mulai dari pengkajian sampai dengan evaluasi.

B. Klasifikasi
Klasifikasi halusinasi sebagai berikut :
·         Halusinasi dengar (akustik, auditorik), pasien itu mendengar suara yang membicarakan, mengejek, menertawakan, atau mengancam padahal tidak ada suara di sekitarnya.
·         Halusinasi lihat (visual), pasien itu melihat pemandangan orang, binatang atau sesuatu yang tidak ada.
·         Halusinasi bau / hirup (olfaktori). Halusinasi ini jarang di dapatkan. Pasien yang mengalami mengatakan mencium bau-bauan seperti bau bunga, bau kemenyan, bau mayat, yang tidak ada sumbernya.
·         Halusinasi kecap (gustatorik). Biasanya terjadi bersamaan dengan halusinasi bau / hirup. Pasien itu merasa (mengecap) suatu rasa di mulutnya.
·         Halusinasi singgungan (taktil, kinaestatik). Individu yang bersangkutan merasa ada seseorang yang meraba atau memukul. Bila rabaab ini merupakan rangsangan seksual halusinasi ini disebut halusinasi heptik.


C. Etiologi
Menurut Mary Durant Thomas (1991), Halusinasi dapat terjadi pada klien dengan gangguan jiwa seperti skizoprenia, depresi atau keadaan delirium, demensia dan kondisi yang berhubungan dengan penggunaan alkohol dan substansi lainnya. Halusinasi adapat juga terjadi dengan epilepsi, kondisi infeksi sistemik dengan gangguan metabolik. Halusinasi juga dapat dialami sebagai efek samping dari berbagai pengobatan yang meliputi anti depresi, anti kolinergik, anti inflamasi dan antibiotik, sedangkan obat-obatan halusinogenik dapat membuat terjadinya halusinasi sama seperti pemberian obat diatas. Halusinasi dapat juga terjadi pada saat keadaan individu normal yaitu pada individu yang mengalami isolasi, perubahan sensorik seperti kebutaan, kurangnya pendengaran atau adanya permasalahan pada pembicaraan. Penyebab halusinasi pendengaran secara spesifik tidak diketahui namun banyak faktor yang mempengaruhinya seperti faktor biologis , psikologis , sosial budaya,dan stressor pencetusnya adalah stress lingkungan , biologis , pemicu masalah sumber-sumber koping dan mekanisme koping.

D. Psikopatologi
Psikopatologi dari halusinasi yang pasti belum diketahui. Banyak teori yang diajukan yang menekankan pentingnya faktor-faktor psikologik, fisiologik dan lain-lain. Ada yang mengatakan bahwa dalam keadaan terjaga yang normal otak dibombardir oleh aliran stimulus yang yang datang dari dalam tubuh ataupun dari luar tubuh. Input ini akan menginhibisi persepsi yang lebih dari munculnya ke alam sadar.Bila input ini dilemahkan atau tidak ada sama sekali seperti yang kita jumpai pada keadaan normal atau patologis, maka materi-materi yang ada dalam unconsicisus atau preconscious bisa dilepaskan dalam bentuk halusinasi.
Pendapat lain mengatakan bahwa halusinasi dimulai dengan adanya keinginan yang direpresi ke unconsicious dan kemudian karena sudah retaknya kepribadian dan rusaknya daya menilai realitas maka keinginan tadi diproyeksikan keluar dalam bentuk stimulus eksterna.


E. Tanda dan Gejala
Pasien dengan halusinasi cenderung menarik diri, sering di dapatkan duduk terpaku dengan pandangan mata pada satu arah tertentu, tersenyum atau bicara sendiri, secara tiba-tiba marah atau menyerang orang lain, gelisah, melakukan gerakan seperti sedang menikmati sesuatu. Juga keterangan dari pasien sendiri tentang halusinasi yang di alaminya (apa yang di lihat, di dengar atau di rasakan).





F. Penatalaksanaan

Penatalaksanaan pada pasien halusinasi dengan cara :
 Menciptakan lingkungan yang terapeutik
Untuk mengurangi tingkat kecemasan, kepanikan dan ketakutan pasien akibat halusinasi, sebaiknya pada permulaan pendekatan di lakukan secara individual dan usahakan agar terjadi knntak mata, kalau bisa pasien di sentuh atau di pegang. Pasien jangan di isolasi baik secara fisik atau emosional. Setiap perawat masuk ke kamar atau mendekati pasien, bicaralah dengan pasien. Begitu juga bila akan meninggalkannya hendaknya pasien di beritahu. Pasien di beritahu tindakan yang akan di lakukan.
Di ruangan itu hendaknya di sediakan sarana yang dapat merangsang perhatian dan mendorong pasien untuk berhubungan dengan realitas, misalnya jam dinding, gambar atau hiasan dinding, majalah dan permainan.
Melaksanakan program terapi dokter
Sering kali pasien menolak obat yang di berikan sehubungan dengan rangsangan halusinasi yang di terimanya. Pendekatan sebaiknya secara persuatif tapi instruktif. Perawat harus mengamati agar obat yang di berikan betul di telannya, serta reaksi obat yang di berikan.
Menggali permasalahan pasien dan membantu mengatasi masalah yang ada
Setelah pasien lebih kooperatif dan komunikatif, perawat dapat menggali masalah pasien yang merupakan penyebab timbulnya halusinasi serta membantu mengatasi masalah yang ada. Pengumpulan data ini juga dapat melalui keterangan keluarga pasien atau orang lain yang dekat dengan pasien.
Memberi aktivitas pada pasien
Pasien di ajak mengaktifkan diri untuk melakukan gerakan fisik, misalnya berolah raga, bermain atau melakukan kegiatan. Kegiatan ini dapat membantu mengarahkan pasien ke kehidupan nyata dan memupuk hubungan dengan orang lain. Pasien di ajak menyusun jadwal kegiatan dan memilih kegiatan yang sesuai.
Melibatkan keluarga dan petugas lain dalam proses perawatan
 Keluarga pasien dan petugas lain sebaiknya di beritahu tentang data pasien agar ada kesatuan pendapat dan kesinambungan dalam proses keperawatan, misalny dari percakapan dengan pasien di ketahui bila sedang sendirian ia sering mendengar laki-laki yang mengejek. Tapi bila ada orang lain di dekatnya suara-suara itu tidak terdengar jelas. Perawat menyarankan agar pasien jangan menyendiri dan menyibukkan diri dalam permainan atau aktivitas yang ada. Percakapan ini hendaknya di beritahukan pada keluarga pasien dan petugaslain agar tidak membiarkan pasien sendirian dan saran yang di berikan tidak bertentangan.

Sabtu, 01 Maret 2014

Fungsi "IF" pada excel

Fungsi IF pada Microsoft Excel dapat digunakan sebagai formula logika untuk menghitung atau menentukan nilai sebuah pernyataan dimana fungsi IF akan memberikan nilai tertentu jika logika itu benar atau salah.

Kali ini kita coba secara sederhana bagaimana sebuah rumus fungsi IF digunakan..

disini saya akan membuat sebuah contoh :
1.)anggap aja pada tabel dibawah ini adalah nilai hasil ujian siswa dengan syarat kelulusan siswa diatas 70 atau sama dengan...
    example:
 
dari data diatas kita tahu berapa siswa yang lulus itu karena data nya cuman sedikit, jika kita mempunyai banyak data maka kita akan kewalahan untuk menghitungnya oleh sebab itu kita membutuhkan sebuah rumus : 

coba lihat dibawah ini :

maka hasilnya :


 jika kita sudah membuat 1 rumus maka untuk selanjutnya kita cuman menarik rumus kebawah dan secara otomatis selesai sudah :


senoga membantu sekian dan terimakasih :)

Jumat, 24 Januari 2014

Membuat dropdown pada excel

selamat datang teman-teman, hmmmm kali ini gw akan memberikan sedikit masukan tentang cara membuat dropdown pada excel, mungkin teman-teman udah pada tau caranya, tapi gw cuman pengen memberikan apa yang gw tau aja klo udah tau dilihat aja, n klo belum tau ya dipahami aja, kali aja bisa membantu agan-agan yang lagi galau atau kesepian, nah jangan berlama-lama sekarang saat nya kita pergi ke TKP....


Step by Step

1.) yang pasti sediakan rokok dan kopi yang selalu setia menemani anda, :)
2.)buka excel anda
3.) ni liat contohnya : Menu Data==>Data Validation==>Data Validation

maka akan nonggol seperti ini, pilih list...
setelah klik list maka akan terlihat gambar seperti ini, dan disinilah kita memasukkan data apa yang ingin kita tampilkan pada dropdown  excel kita. Disini saya beri contoh warna merah, kuning, hijau, biru, dan ungu. dan jangan lupa di beri tanda koma...

 Hasilnya seperti ini Gan...

  
Sekian dulu dari saya ya, jika ada kekurangan mohan di kasi saran dan kritik, dan jika ada kelebihan jangan dilebih-lebihkan, wkwkwkwkw...................

"ARI GATO"











Kamis, 05 Desember 2013

sofware etabs portable gratis

ETABS adalah salah satu applikasi yang sangat populer di dunia teknik sipil. Software buatan CSI Berkeley ini memang sangat powerful dalam melakukan pemodelan struktur, analisis, dan desain. Kebanyakan para perencana high rise building menjadikan ETABS sebagai pilihan pertama dan utama dalam melakukan analisis dinamik, karena memang analisis dinamik ini agak-agak butuh waktu dan keringat yang berlebihan jika dicoba dihitung secara manual. Analisis dinamik nggak sesederhana analisis statik yang cukup mengandalkan konsep kesetimbangan gaya saja.

Hmm… sebagai software yang tangguh, ETABS tentunya butuh resource yang mendukung. Paling tidak ada tiga komponen perangkat komputer yang ngaruh terhadap performa ETABS, yaitu : kecepatan processor, kapasitas memori (RAM), dan besarnya memori kartu grafis (VGA card). Dua yang pertama berguna untuk memaksimalkan kinerja pada saat proses analisis (run) berlangsung, dan juga ketika memuat (loading) data baik itu ketika loading database maupun loading hasil analisis (output). Sementara VGA card sendiri yaa tentu saja buat memaksimalkan tampilan grafis yang muncul.

Kalau kita sedang menggunakan ETABS, tentu hal yang paling sering dilakukan oleh ETABS adalah refresh drawing atau redraw. Sejak memulai menjalankan program ETABS sampai aplikasi tersebut ditutup, ETABS harus melakukan redraw secara otomatis setiap kali user selesai melakukan perintah-perintah tertentu, misalnya, setelah membuat elemen (kolom, balok, pelat), setelah assigning apa saja (section, load, dll), mengubah tampilan (plan, elevation, 3D), menampilkan informasi seperti label, section, end-releases, dsb.

Intinya, VGA card-lah yang paling banyak (baca: paling sering) bekerja sewaktu ETABS dijalankan. Memang sih, dalam kenyataannya di antara pengguna ETABS, yang selalu diperhatikan adalah kecepatan prosessor dan besarnya memori (RAM), soalnya mereka berorientasi pada hasil (output). Kecepatan running (calculating) adalah satu-satunya indikator cepat-tidaknya ETABS dalam beroperasi. Dan memang pada saat nge-run ETABS, seluruh dunia seakan berhenti berputar, biarkan ETABS selesai dulu :D. Padahal, tugas ETABS bukan hanya running, tapi juga menampilkan output. Kami  sendiri sering mengalami proses running yang nggak lama-lama amat, tapi waktu mau menampilkan outpunya, ETABS harus bekerja keras untuk redraw setiap kali dibutuhkan.

Nah, kalau agan-agan mau aplikasinya langsung aja klik ==> DOWNLOAD 
semoga bermanfaat, tq.................

Senin, 18 November 2013

Quiz Parampaa.2

Parampa versi 2...
KLIK UNTUK
DOWNLOAD  
selamat bermain ^-^

Quiz parampa



bingung nih dikampus mau ngapain, kebetulan lagi wifi an sambil mainin Quiz Parampa asik juga mainnya, ini game maininnya seperti Quiz yang berisi teka-teki jadi agak susah sih tapi happy, nih klo kamu mau main downloadnya  KLIK DISININYA

Sabtu, 16 November 2013

ASUHAN KEPERAWATAN KLIEN DENGAN KELAINAN OTOT MATA STRABISMUS



A. Pengertian
        Strabismus (juling) adalah : kerja otot-otot bola mata yang tidak terkoordinasi sehingga sumbu visual kedua mata tidak bertemupada titik objek Beberapa ahli menyatakan bahwa juling adalah apabila kelopak mata mengalami perubahan bentuk, sehingga untuk mengurangi efek kelainan refraksi supaya bisa melihat lebih jelas terjdi efek pinhole.Batasan yang benar mengenai juling adalah jika salah satu matanya tidak mengarah ke objek.

B. Etiologi
1. Kelainan refraksi
a. Hipermetropi
Penyebab utama mata juling pada anak kecil adalah hipermetripia yang biasanya berawal ketika anak mulai suka melihat gambar atau benda kecil.
b. Miopia
Strabismus yang disebabkan oleh myopia lebih jarang terjadi

2. Paralisis salah satu mata
a Kelumpuhan musculus rektus medialis : menyebabkan strabisimus divergen gangguan gerak kearah nasal. Keadaan ini bertambah bila mata digerakkan kearah nasal.
b. Kelumpuhan musculus rektus superior
Terdapat keterbatasan gerak keatas (Hipertropia, diplopia campuran, diplopia vertical dan crossed diplopia ) kelainan ini bertambah pada gerakan mata keatas.
c. Kelumpuhan musculus rektus inferior
Terdapat keterbatasan gerak mata kebawah, hipertropia, diplopia campuran, yang bertambah hebat bila mata digerakkan kebawah.
d. Kelumpuhan musculus obligus superior.
Terdapat keterbatasan gerak kearah bawah terutama kearah nasal inferior
e. Kelumpuhan musculus obligus inferior
Terdapat keterbatasan gerak kearah atas terutama kearah nasal, strabisnus vertical, diplopia campuran .kelainan ini bertambah bila mata digerakkan kearah temporal atas.

2. Visus yang buruk pada salah satu mata.
Visus yang buruk pada salah satu mata biasanya akan normal pada mata lainnya sehingga kedua mata gagal bekerjasama dan akibatnya timbul deviasi gerakan bola mata.
Faktor predisposisi
 Trauma didaerah kepala
 Diabetes miletus juvenile fulminan
 Meningitis
 Tumor otak
 Inveksi virus

C. TANDA DAN GEJALA
1. tanda dan gejala utama strabisimus yaitu mata mempunyai kecendrungan untuk berdeviasi kesalah satu arah dimana arah tersebut dapat dikelompokkan berdasarkan jenis strabisimusnya. Contoh :
 Horizontal
Esideviasi : bila salah satu mata berfiksasi pada objek sedangkan mata yang lain berdeviasi ke nasal
Eksodeviasi : Deviasi mata ke temporal
 Vertical
Hiperdeviasi : bila salah satu mata berdeviasi ke superior
Hipodeviasi : bila salah satu mata berdeviasi ke inferior
 Torsi
 Insiklo deviasi : salah satu mata memutari sumbu sagital ke nasal
 Excydo deviasi : salah satu mata memutari sumbu sagital ke temporal
2. Noncomitant strabismus / strabismus paralitik
Tanda tanda, 
Gerak mata terbatas pada daerah dimana otot yang lumpuh bekerja
Deviasi, kalau mata digerkkan kearah lapangan dimana otot lumpuh bekerja, mata yang sehat akan menjurus kearah ini dengan baik, sedangkan mata yang sakit tertinggal
Diplopia
Okular torticallis
Proyeksi yang salah
Vertigo, mual-mual

D. Klasifikasi
1. Berdasarkan Status Fusi
a. Heteroforia
Adalah: Keadana dimana mata mempunyai kecendrungan untuk berdeviasi ke salah satu arah, yang dapat diatasi dengan penglihatan binokuler tunggal Deviasix Laten , hanya dapat dilihat bila mata sebelah nya ditutup.
b. Heterotropia
Adalah: Kelainan deviasi dimana tidak mungkin untuk melakukan penglihatan Binokuler Tunggal. Fiksasi terjadi dengan satu mata dan tidak berubah dengan dua mata pada waktu yang sama.
Hetertropia dapat disebabkan oleh kelainan:
1. Hederiter
2. Anatomik, kelainan otot mata luar, kelainan rongga orbita
3. Kelainan refraksi
4. Kelainan pernafasan, sensori motorik, keadaan yang menggagalkan fusi
5. Kombinasi dan faktor-faktor di atas
2. Berdasarkan arah deviasi
a. Horizontal
 Esodeviasi
 Exodeviasi
b. Vertikal
 Hiperdeviasi
 Hipodeviasi
c. Torsi
Insiklo Deviasi
Exyclo deviasi
3. Berdasarkan variasi sudut deviasi pada gerakan bola mata
a. Strabismus non paralitik
Besarnya sudut deviasi sama besar pada setiap gerakan bola mata. Sudut deviasinya adalah sama tidak tergantung pada arah pandangan (direction of gaze). Deviasi ini terjadi akibat penglihatanya yang buruk.Semua penglihatan yang buruk bisa berakibat terjadinya deviasi.Ex retinoblastoma.
Dibedakan atas 2, strabisimus non paralitik non akomodatif. Deviasinya sama kesemua arah dan tidak dipengaruhi oleh akomodasi karena penyebabnya tidak ada hubunganya dengan kelainan refraksi/kelumpuhan otot.
Disebabkan oleh
 Insersi yang salah oleh otot-otot yang bekerja horizontal
 Gangguan keseimbangan gerak bola mata
 Kekurangan daya fusi
b. Strabismus paralitik
Sudut deviasi tidak sama pada semua arah disebabkan hilangnya satu atau lebih otot mata.
Juling juga bisa disebabkan oleh palsi saraf keenam yang disebabkan oleh tumor yang berakibat meningkatnya tekanan intrakranial.Pada kasus ini juling adalah aparalitik dan sudut deviasinya berubah-ubah tergantung pada arah pandangan.Pada penderit miestenia gravis gejala pertamanya dalah juling diplopia.
4. Berdasarkan usia terjadinya
 Kongenital terjadi pada usia<  Acquired terjadi pada usia .6 bulan > 6 bulan
E. Patofisiologi
Kelainan refraksi Visus yang buruk Paralisis salah
Pada salah satu mata satu otot mata


Hipermetropia Miopi
Gangguan/keterbatasan
Gerak otot mata kearah
tertentu

Penyesuaian mata
Tidak konstan
Mata gagal bekerja sama


Jalur visual abnormal
Deviasi gerakan bola mata

Akomodasi berlebihan
Strabismus paralitik

Konvergensi berlebih
(overkonvergence)


Strabismus non paralitik



 Kelainan kosmetik* Gerak mata terbatas
 Menurunya visus * Diplopia
 Murung * Proyeksi mata yang salah
 Vertigo, mual


Mk. Gangguan harga diri Mk. Gangguan sensori perseptual
Penglihatan
F. Pemeriksaan Penunjang

Pemeriksaan Ini dilakukan untuk mengukur derajat strabismus. Diantara nya:
1. Tes Hisch Berg
Caranya :
Penderita disuruh untuk melihat cahaya pada jarak 12 inci (30cm).perhatikan reflek cahaya terhadap pupil. Kalau letak nya di pinggir pupil, maka deviasinya 15 derajat, tapi kalau letaknya diantara pinggir pupil dan limbus maka deviasinya 30 derajat dan jika letak nya di limbus, maka derajat deviasinya 45 derajat.(catt : 1 derajat= 2 prisma diopter)

2. Tes Krimsky
Carabya:
Penderita melihat kesumber cahaya yang jarak nya ditentukan.Perhatikan reflek cahaya pada mata yang berdeviasi. Kekuata prisma yang terbesar diletakkan di depan mata yang brdeviasi, sampai reflek cahaya yang terletak disentral kornea

3. Tes Maddox Cross
Maddox Cross terdiri dari satu palang dengan tangan dari silang nya 1 m. pada jarak 1 m dari Maddox cross, kedua mata penderita, musle light yang terletak ditengah-tengah Maddox cross dan ujung Maddox cross membentuk segitiga sama kaki dengan sudut dasarnya 45o
Suruh penderita melihat muscle light, kalau tidak ada strabismus, reflek cahaya terletak di tengah-tengah pupil, namu bila strabismus, letaknya eksentrik
4. Tes Pemeriksaan Rotasi Monokuler
Caranya:
Diperiksa dengan salah satu mata ditutup, sedangkn mata yang lain mengikuti cahaya atau objek yang diarahkan kesemua arah. Kelemahan deduksi dapat diketahui yang disebabkan oleh kelemahan otot atau kelainan anatomis dari otot.
5. Uncover Test
Caranya:
Pasien diminta melihat objek fiksasi.Mata kanan ditutup dan mata kiri tidak.
Lalu dibuka, segera perhatikan, bila bola mata bergerak, heterophoria diam,orhoporia, exophoria bergerak nasal.


II DO :
• Menurunya ketajaman penglihatan (visus)
• Adanya diplopia
• Adanya deviasi pada mata
DS :
• Anak sering mual dan pusing
• Klien mengeluh penglihatannya ganda
DO :
• Adanya deviasi pada mata
• Klien tampak sering murung
DS :
• Ibu klien mengatakan anaknya kurang bergaul dengan teman-temanya.
• Klein merasa rendah diri
Gangguan
Penerimaan
Sensori/status
Organ indra

Kelainan fisik (mata)
Gangguan sensori
Perseptual
Penglihatan
( diplopia )
Gangguan harga diri


B. Rencana Kepertawatan
no Diagnose keperawatan perencanaan
tujuan intervensi rasional
1

2 Gg sensori perceptual penglihatan(diplopia)b/d gg penerimaan sensori/status organ indra.
Gg harga diri b/d fisik (mata) Gg sensori perceptual penglihatan dapat teratasi dengan criteria hasil:
- Meningkat nya ketajaman penglihatan
- Diplopia tidak ada lagi
- mual dan vertigo tidak ada lagi.

Gg hargadiri teratasi dengan criteria hasil:
- klien tidak murung lagi
- klien tidak merasa rendah diri lagi dengan teman- temannya - tentukan ketajaman penglihatan, catat apakah satu/dua mata terlihat

- beritahu penyebab terjadinya diplopia.

- tentukan jenis strabismus tersebut

- kolaborasi dengan dokter dalam pemberian terapi obat.

- Anjurkan orangtua untuk selalu memberikan dukungan terhadap tindakan pasien yang positif
- anjurkan orang tua untuk memotivasi anak nya untuk berbgabung dengan teman sebaya.

- lakukan pendekatan pada klien

- kolaborasi dengan psikolog - Menentukan pilihan intervensi yang bervariasi karena kehilangan penglihatan terjadi lambat dan progresif
- adanya diplopia menyebabkan mual dan vertigo.

- untuk menentukan jenis pengobatan yang tepat
- untuk memperbaiki visus dan kelainan refraksi

- meningkatkan rasa percaya diri pat,bahwa ia mampu seperti temannya yang lain

- mengurangi rasa kurang percaya diri klien terhadap diri nya sehingga klien mau bergaul dengan teman-temannya
- mempermudah dalam memberikan dukungan
- membantu klien mendapatkan kesembuhan optimal

LP TONSILITIS AKUT


A.    Pengertian
Tonsilitis adalah terdapatnya peradangan umum dan pembengkakan dari jaringan tonsil dengan pengumpulan lekosit, el-sel epitel mati dan bakteri patogen dalam kripta (Adam Boeis, 1994: 330).
Tonsilektomi adalah suatu tindakan invasif yang dilakukan untuk mengambil tonsil dengan atau tanpa adenoid (Adam Boeis, 1994: 337).

B.    Etiologi
1.    Streptokokus hemolitikus grup A.
2.    Pneumokokus.
3.    Stafilokokus.
4.    Haemofilus influezae.

C.    Pathofisiologi
1.    Terjadinya peradangan pada daerah tonsila akibat virus.
2.    Mengakibatkan terjadinya pembentukan eksudat.
3.    Terjadi selulitis tonsila dan daerah sekitarnya.
4.    Pembentukan abses peritonsilar.
5.    Nekrosis jaringan.

D.    Gejala-gejala
1.    Sakit tenggorokan dan disfagia.
2.    Penderita tidak mau makan atau minum.
3.    Malaise.
4.    Demam.
5.    Nafas bau.
6.    Otitis media merupakan salah satu faktor pencetusnya.
E.    Penatalaksanaan
1.    Tirah baring.
2.    Pemberian cairan adekuat dan diet ringan.
3.    Pemberian obat-obat (analgesik dan antibiotik).
4.    Apabila tidak ada kemajuan maka alternatif tindakan yang dapat di lakukan adalah pembedahan.

F.    Indikasi tindakan pembedahan
1.    Indikasi absolut
a.    Timbulnya kor pulmonale akibat adanya obstruksi jalan nafas yang kronis.
b.    Hipertrofi tonsil atau adenoid dengan sindroma apnea pada waktu tidur.
c.    Hipertrofi yang berlebihan yang mengakibatkan disfagia dan penurunan berat badan sebagai penyertanya.
d.    Biopsi eksisi yang di curigai sebagai keganasan (limfoma).
e.    Abses peritonsilaris berulang atau abses yang meluas pada jaringan sekitarnya.
2.    Indikasi relatif
Seluruh indikasi lain untuk tindakan tonsilektomi di anggap sebagai indikasi relatif.
3.    Indikasi lain yang paling dapat di terima adalah
a.    Serangan tonsilitis yang berulang.
b.    Hiperplasia tonsil dengan gangguan fungsional (disfagia).
c.    Hiperplasia dan obstruksi yang menetap selama 6 bulan.
d.    Tidak memberikan respons terhadap penatalaksanaan dan terapi.

G.    Kontraindikasi
1.    Demam yang tidak di ketahui penyebabnya.
2.    Asma.
3.    Infeksi sistemik atau kronis.
4.    Sinusitis.

H.    Persiapan operasi yang mungkin di lakukan
1.    Pemeriksaan laboratorium (Hb, leko, waktu perdarahan).
2.    Berikan penjelasan kepada klien tindakan dan perawatan setelah operasi.
3.    Puasa 6-8 jam sebelum operasi.
4.    Berikan antibiotik sebagai propilaksis.
5.    Berikan premedikasi ½ jam sebelum operasi.

I.    Pengkajian
1.    Riwayat kesehatan yang bergubungan dengan faktor pendukung terjadinya tonsilitis serta bio- psiko- sosio- spiritual.
2.    Peredaradan darah
Palpitasi, sakit kepala pada saat melakukan perubahan posisi, penurunan tekanan darah, bradikardi, tubuh teraba dingin, ekstrimitas tampak pucat.
3.    Eliminasi
Perubahan pola eliminasi (inkontinensia uri/ alvi), distensi abdomen, menghilangnya bising usus.
4.    Aktivitas/ istirahat
Terdapat penurunan aktivitas karena kelemahan tubuh, kehilangan sensasi atau parese/ plegia, mudah lelah, sulit dalam beristirahat karena kejang otot atau spasme dan nyeri. Menurunnya tingkat kesadaran, menurunnya kekuatan otot, kelemahan tubuh secara umum.
5.    Nutrisi dan cairan
Anoreksia, mual muntah akibat peningkatan TIK (tekanan intra kranial), gangguan menelan, dan kehilangan sensasi pada lidah.
6.    Persarafan
Pusing/ syncope, nyeri kepala, menurunnya luas lapang pandang/ pandangan kabur, menurunnya sensasi raba terutama pada daerah muka dan ekstrimitas. Status mental koma, kelmahan pada ekstrimitas, paralise otot wajah, afasia, pupil dilatasi, penurunan pendengaran. 
7.    Kenyamanan
Ekspresi wajah yang tegang, nyeri kepala, gelisah.
8.    Pernafasan
Nafas yang memendek, ketidakmampuan dalam bernafas, apnea, timbulnya periode apnea dalam pola nafas.
9.    Keamanan
Fluktuasi dari suhu dalam ruangan.
10.    Psikolgis
Denial, tidak percaya, kesedihan yang mendalam, takut, cemas.

J.    Masalah  dan rencana tindakan keperawatan
1.    Ketidakefektifan pola nafas berhubungan dengan kerusakan jaringan atau trauma pada pusat pernafasan
Tujuan: Pasien menunjukkan kemampuan dalam melakukan pernafasan secara adekuat dengan memperlihatkan hasil blood gas yang stabil dan baik serta hilangnya tanda-tanda distress pernafasan.
Rencana tindakan:
a.    Bebaskan jalan nafas secara paten (pertahankan posisi kepala dalam keadaan sejajar dengan tulang belakang/ sesuai indikasi).
b.    Lakukan suction jika di perlukan.
c.    Kaji fungsi sistem pernafasan.
d.    Kaji kemampuan pasien dalam melakukan batuk/ usaha mengeluarkan sekret.
e.    Observasi tanda-tanda vital sebelum dan sesudah melakukan tindakan.
f.    Observasi tanda-tanda adanya ditress pernafasan (kulit menjadi pucat/ cyanosis).
g.    Kolaborasi dengan terapist dalam pemberian fisoterapi.

2.    Kerusakan mobilitas fisik berhubungan dengan kelemahan neuromuskuler pada ekstrimitas.
Tujuan: Pasien menunjukan adanya peningkatan kemampuan dalam melakukan aktivitas fisik.
Rencana tindakan:
a.    Kaji kemampuan pasien dalam melakukan aktivitas.
b.    Ajarkan pada pasien tentang rentang gerak yang masih dapat di lakukan.
c.    Lakukan latihan secara aktif dan pasif pada akstrimitas untuk mencegah kekakuan otot dan atrofi.
d.    Anjurkan pasien untuk mengambil posisi yang lurus.
e.    Bantu pasien secara bertahap dalam melakukan ROM sesuai kemampuan.
f.    Kolaborasi dalam pemberian antispamodic atau relaxant jika di perlukan.
g.    Observasi kemampuan pasien dalam melakukan aktivitas 

3.    Penurunan perfusi jaringan otak berhubungan dengan edema cerebri, perdarahan pada otak.
Tujuan: Pasien menunjukan adanya peningkatan kesadaran, kognitif dan fungsi sensori.
Rencana tindakan:
a.    Kaji status  neurologis dan catat perubahannya.
b.    Berikan pasien posisi terlentang.
c.    Kolaborasi dalam pemberian O2.
d.    Observasi tingkat kesadaran, tanda vital.

4.    Gangguan rasa nyaman nyeri berhubungan dengan adanya trauma secara fisik
Tujuan: Pasien mengungkapkan nyeri sudah berkurang dan menunjukkan suatu keadaan yang relaks dan tenang.
Rencana tindakan:
a.    Kaji tingkat atau derajat nyeri yang di rasakan oleh pasien dengan menggunakan skala.
b.    Bantu pasien dalam mencarai faktor presipitasi dari nyeri yang di rasakan.
c.    Ciptakan lingkungan yang tenang.
d.    Ajarkan dan demontrasikan ke pasien tentang beberapa cara dalam melakukan tehnik relaksasi.
e.    Kolaborasi dalam pemberian sesuai indikasi.

5.    Kerusakan komunikasi verbal berhubungan dengan efek dari kerusakan pada area bicara pada himisfer otak.
Tujuan: Pasien mampu melakukan komunikasi untuk memenuhi kebutuhan dasarnya dan menunjukan peningkatan kemampuan dalam melakukan komunikasi.
Rencana tindakan:
a.    Lakukan komunkasi dengan pasien (sering tetapi pendek serta  mudah di pahami).
b.    Ciptakan suatu suasana penerimaan terhadap perubahan yang dialami pasien.
c.    Ajarkan pada pasien untuk memperbaiki  tehnik berkomunikasi.
d.    Pergunakan tehnik komunikasi non verbal.
e.    Kolaborasi dalam pelaksanaan terapi wicara.
f.    Observasi kemampuan pasien dalam melakukan komunikasi baik verbal maupun non verbal.

6.    Perubahan konsep diri berhubungan dengan perubahan persepsi.
Tujuan: Pasien menunjukan peningkatan kemampuan dalam menerima keadaan nya.
Rencana tindakan:
a.    Kaji pasien terhadap derajat perubahan konsep diri.
b.    Dampingi dan dengarkan keluhan pasien.
c.    Beri dukungan terhadap tindakan yang bersifat positif.
d.    Kaji kemampuan pasien dalam beristirahat (tidur).
e.    Observasi kemampuan pasien dalam menerima keadaanya.
7.    Perubahan pola eliminasi defekasi dan uri berhubungan dengan an inervasi pada bladder dan rectum.
Tujuan: Pasien menunjukkan kemampuan dalam melakukan eliminasi (defekasi/ uri) secara normal sesuai dengan kebiasaan pasien.
Rencana tindakan:
a.    Kaji pola eliminasi pasien sebelum dan saat di lakukan pengkajian.
b.    Auskultasi bising usus dan distensi abdomen.
c.    Pertahankan porsi minum 2-3 liter perhari (sesuai indikasi).
d.    Kaji/ palpasi distensi dari bladder.
e.    Lakukan bladder training sesuai indikasi.
f.    Bantu/ lakukan pengeluaran feces secara manual.
g.    Kolaborasi dalam(pemberian gliserin, pemasangan dower katheter dan  pemberian obat sesuai indikasi).

8.    Resiko terjadinya kerusakan integritas kulit berhubungan dengan sirkulasi perifer yang tidak adekuat, adanya edema, imobilisasi.
Tujuan: Tidak terjadi kerusakan integritas kulit (dikubitus).
Rencana tindakan:
a.    Kaji keadaan kulit dan lokasi yang biasanya terjadi luka atau lecet.
b.    Anjurkan pada keluarga agar menjaga keadan kulit tetap kering dan bersih.
c.    Ganti posisi tiap 2 jam sekali.
d.    Rapikan alas tidur agar tidak terlipat.

9.    Resiko terjadinya ketidakpatuhan terhadap penatalaksanaan yang berhubungan dengan kurangnya informasi.
Tujuan: Pasien menunjukan kemauan untuk melakukan kegiatan penatalak- sanaan.
a.    Identifikasi faktor yang dapat menimbulkan ketidak patuhan terhadap penatalaksanaan.
b.    Diskusikan dengan pasien cara-cara untuk mengatasi faktor penghambat tersebut.
c.    Jelaskan pada pasien akibat dari ketidak patuhan terhadap penatalaksanaan.
d.    Libatkan keluarga dalam penyuluhan.
e.    Anjurkan pada pasien untuk melakukan kontrol secara teratur.

DAFTAR PUSTAKA

Boeis,Adam, 1994, Buku Ajar Penyakit THT, Jakarta: EGC.

Junadi, Purnawan,  1982, Kapita Selekta Kedokteran, Jakarta: Media Aesculapius Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.

Price, Sylvia Anderson, 1985, Pathofisiologi Konsep klinik proses-proses penyakit, Jakarta: EGC.